Gambar 1
Curi-curi waktu di kantor.
Menjelek-jelekkan atasan.
Datang telat, pulang cepat.
Pernahkan Anda melihat fenomena ini di
kantor-kantor.
Beberapa hari yang lalu, saya diundang oleh
OJK, PGN, dan Kementerian ESDM. Ya, in-house seminar. Pada kesempatan itu, sedikit-banyak
saya bicara soal #KerjaItuIbadah. Memang, semua profesional sudah tahu tentang
ini, namun bagaimana dengan penerepannya? Contoh:
- Ia
curi-curi waktu di kantor. Atau, badannya di kantor, tapi hati dan pikirannya
di luar kantor. Pantaskah kita mengaku kerja itu ibadah?
- Ia
menjelek-jelekkan atasan dan rekan sekantor. Bahkan sering bergunjing tentang
kantor. Pantaskah kita mengaku kerja itu ibadah?
- Ia
tidak peduli dengan masalah-masalah kantor yang tidak berhubungan langsung
dengan dirinya. Dengan alasan beda divisi dan beda KPI, ia enggan menolong
rekan sekantor.
- Ia
mementingkan office politic daripada office performance. Ia menjalankan ‘politik kotor’ di kantor.
- Tidak
jarang ia membenarkan dirinya sendiri, menyalah-nyalahkan keadaan, bahkan
oportunis dari setiap keadaan di kantor.
- Masuknya
nyuap, datangnya telat, pulangnya cepat, ngeluhnya tiap saat, kerjanya
nyendat-nyendat, dan malasnya berlipat-lipat. Hm, masih ngaku kerja itu ibadah?
Hehehe, kalau Anda tidak melakukannya, yah Anda tidak perlu tersinggung.
Masih pantaskah kita mengaku kerja itu
ibadah? Tak ada salahnya kalau kita sama-sama merenungkan ini. Dan mohon
sampaikan tulisan ini kepada rekan kerja Anda. Syukur-syukur kalau kita semua
akhirnya tersadarkan.
Ingatlah, kerja hanya akan bernilai ibadah
jika kita iringi dengan niat yang benar, sikap yang benar, dan cara yang benar.
Bukan sekadar kerja. Demikian pula teman-teman yang masih belajar atau yang
sudah berbisnis. Hendaknya semua kesibukan kita terhitung ibadah.
Oleh: Ippho Santosa
-------------------------------------------
Posted 07 Januari 2019
-------------------------------------------
Posted 07 Januari 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar